Jakarta, 28 Agustus 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan ekonomi dengan Iran. Pemerintahan Trump melalui kebijakan baru memperingatkan negara dan entitas yang tetap melakukan transaksi dengan Teheran dapat menghadapi risiko sanksi sekunder dari Amerika Serikat. Langkah tersebut merupakan bagian dari kampanye ekonomi yang disebut Operation Economic Outcast, yang bertujuan memutus jalur keuangan Iran dari berbagai penjuru dunia. Washington ingin negara-negara lain menghentikan hubungan bisnis dengan Iran agar tekanan ekonomi terhadap pemerintahan Teheran semakin kuat. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat kini semakin mengandalkan tekanan ekonomi setelah konflik dengan Iran memasuki fase yang lebih panjang dan kompleks.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran akan menghadapi konsekuensi jika tetap mempertahankan hubungan ekonomi tersebut. Pemerintah Amerika Serikat memperluas sasaran sanksi terhadap sektor-sektor yang dianggap menjadi sumber pemasukan dan jaringan pendukung Iran, termasuk teknologi, emas, penerbangan, pelayaran, serta aset digital. Washington juga memperingatkan bahwa pihak yang membantu Iran mengakses sistem keuangan internasional dapat terkena tindakan lebih keras. Kebijakan ini dirancang untuk membuat perusahaan dan pemerintah asing harus memilih antara mempertahankan hubungan dengan Iran atau menjaga akses mereka terhadap sistem keuangan yang terkait dengan Amerika Serikat.
Tekanan tersebut datang ketika perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran belum sepenuhnya berakhir. Konflik yang telah berlangsung selama sekitar enam bulan itu telah menimbulkan dampak besar terhadap keamanan dan perekonomian kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat terus mempertahankan tekanan terhadap Iran, sementara Teheran berusaha mempertahankan jalur perdagangan dan sumber pendapatannya melalui hubungan dengan sejumlah negara. Ketegangan juga semakin rumit karena blokade dan gangguan terhadap jalur pelayaran di kawasan Selat Hormuz masih menjadi persoalan utama. Kondisi tersebut membuat tekanan ekonomi terhadap Iran berpotensi memiliki dampak lebih luas terhadap perdagangan dan pasar energi global.
Namun, Pakistan memilih tidak begitu saja mengikuti tekanan Amerika Serikat. Islamabad justru tetap mempertahankan komunikasi dengan Teheran dan berupaya memainkan peran sebagai mediator dalam konflik yang sedang berlangsung. Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir bahkan melakukan kunjungan ke Teheran setelah sebelumnya berkomunikasi dengan Trump. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya Pakistan mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan menjaga stabilitas kawasan. Posisi Pakistan menunjukkan bahwa kepentingan keamanan dan hubungan regional tidak selalu sejalan dengan tuntutan Washington untuk mengisolasi Iran.
Pemerintah Pakistan menilai komunikasi dengan Iran tetap diperlukan untuk mencegah konflik berkembang menjadi lebih luas. Islamabad memiliki hubungan geografis langsung dengan Iran sehingga perkembangan keamanan di negara tetangga tersebut memiliki konsekuensi langsung terhadap Pakistan. Selain itu, Pakistan juga memiliki kepentingan ekonomi dan keamanan yang berkaitan dengan stabilitas kawasan. Karena itu, Islamabad berusaha mempertahankan ruang diplomatik dengan kedua pihak tanpa sepenuhnya mengambil posisi yang dapat mempersempit peluang perundingan. Pendekatan tersebut membuat Pakistan tetap berhubungan dengan Iran meskipun Amerika Serikat telah memberikan peringatan mengenai konsekuensi bagi negara yang terus melakukan kerja sama dengan Teheran.
Peran Pakistan sebagai mediator juga semakin terlihat setelah upaya sebelumnya menghasilkan kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran. Islamabad sebelumnya terlibat dalam proses diplomasi yang menghasilkan memorandum of understanding untuk membuka jalan menuju pembicaraan mengenai penghentian konflik. Meski kesepakatan tersebut kemudian tidak berjalan sesuai harapan dan periode yang ditentukan telah berakhir, Pakistan masih melihat diplomasi sebagai pilihan yang perlu dipertahankan. Pemerintah Pakistan terus mendorong kedua pihak kembali ke jalur dialog untuk mengurangi eskalasi. Sikap tersebut membuat Islamabad berada pada posisi yang cukup unik karena di satu sisi memiliki hubungan strategis dengan Amerika Serikat, tetapi di sisi lain tetap menjaga komunikasi dengan Iran.
Pakistan juga memiliki kepentingan untuk memastikan ketegangan di sekitar Iran tidak berkembang menjadi konflik regional yang lebih besar. Perang yang berkepanjangan dapat berdampak terhadap perdagangan, energi, keamanan perbatasan, serta stabilitas negara-negara di kawasan. Gangguan terhadap Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan yang sangat diperhatikan karena jalur tersebut merupakan bagian penting dari perdagangan energi dunia. Jika situasi semakin memburuk, dampaknya tidak hanya dirasakan Iran dan negara-negara Timur Tengah, tetapi juga negara-negara Asia yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut. Karena itu, Pakistan berusaha menggunakan jalur diplomasi untuk mengurangi risiko tersebut sekaligus melindungi kepentingan nasionalnya.
Sikap Islamabad juga memperlihatkan bahwa kebijakan isolasi ekonomi yang diinginkan Washington menghadapi tantangan dari negara-negara yang memiliki kepentingan langsung dengan Iran. China dan Rusia juga tetap mempertahankan hubungan dengan Teheran dan menolak tekanan sepihak Amerika Serikat. Bagi negara-negara tersebut, hubungan ekonomi dan kepentingan strategis dengan Iran tidak dapat begitu saja dihentikan hanya karena adanya ancaman sanksi dari Washington. Situasi ini membuat upaya Amerika Serikat untuk mengisolasi Iran secara menyeluruh menjadi lebih sulit. Iran masih memiliki sejumlah jalur alternatif untuk mempertahankan perdagangan, meskipun tekanan ekonomi dan hambatan terhadap akses finansial semakin berat.
Di sisi lain, Iran juga telah memperingatkan negara-negara yang memilih bekerja sama dengan kebijakan Amerika Serikat. Teheran menilai sanksi baru Washington sebagai bentuk perang ekonomi dan menyatakan akan mengambil langkah untuk mempertahankan kepentingannya. Pemerintah Iran berupaya menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak akan membuat negara tersebut menyerah begitu saja terhadap tuntutan Amerika Serikat. Ancaman saling balas tersebut meningkatkan risiko terjadinya eskalasi baru, terutama apabila sanksi mulai diterapkan secara luas terhadap mitra dagang Iran. Negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi dengan Teheran pun harus menghitung kembali risiko yang mungkin muncul dari kedua arah.
Bagi Pakistan, pilihan untuk tetap berkomunikasi dengan Iran bukan berarti Islamabad ingin berhadapan langsung dengan Washington. Pakistan masih memiliki hubungan strategis dengan Amerika Serikat dan sebelumnya juga melakukan komunikasi dengan Trump dalam konteks konflik tersebut. Namun, pemerintah Pakistan tampaknya berusaha mempertahankan posisi sebagai pihak yang dapat berbicara dengan berbagai kubu untuk membuka peluang penyelesaian. Pendekatan tersebut memberikan Islamabad ruang untuk memperjuangkan kepentingan nasional sekaligus memainkan peran dalam upaya meredakan konflik. Jika diplomasi berhasil dibuka kembali, Pakistan berpotensi menjadi salah satu jalur komunikasi penting antara Washington dan Teheran.
Dengan demikian, tekanan Trump untuk mengisolasi Iran secara ekonomi belum sepenuhnya membuat seluruh negara menghentikan hubungan dengan Teheran. Pakistan justru tetap menjalankan komunikasi dan diplomasi dengan Iran di tengah ancaman sanksi dari Amerika Serikat. Perbedaan sikap tersebut menunjukkan betapa rumitnya kepentingan negara-negara di tengah konflik yang semakin panjang. Washington berusaha menggunakan kekuatan ekonomi dan sistem keuangan global untuk mempersempit ruang gerak Iran, sementara Pakistan dan sejumlah negara lain masih melihat hubungan dengan Teheran sebagai bagian penting dari kepentingan regional mereka. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah tekanan ekonomi Amerika Serikat mampu memaksa Iran dan mitra-mitranya mengubah sikap atau justru mendorong terbentuknya jalur perdagangan dan kerja sama alternatif di luar pengaruh Washington.






