Bogor, 2 Oktober 2026 – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan pentingnya mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia agar dapat memanfaatkan periode bonus demografi sebelum populasi memasuki fase menua. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027 sebagai tahapan menuju pertumbuhan 8 persen pada 2029. Menurut Juda, target tersebut perlu dikejar dalam periode yang relatif singkat agar Indonesia tidak menghadapi kondisi “tua sebelum kaya”. Pernyataan itu disampaikan dalam Media Gathering Kementerian Keuangan di Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10/2026).
Juda menjelaskan Indonesia saat ini masih menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang relatif besar. Kondisi tersebut memberikan peluang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat kegiatan ekonomi nasional. Namun, periode tersebut diperkirakan hanya berlangsung sekitar 10 hingga 15 tahun lagi. Setelah itu, peningkatan jumlah penduduk berusia lanjut berpotensi menambah beban kelompok usia produktif.
Situasi tersebut menjadi alasan pemerintah menilai pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen belum cukup untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap. Juda mengatakan pertumbuhan perlu dinaikkan secara bertahap, dimulai dengan mencapai 6 persen pada 2027. Setelah fondasi pertumbuhan semakin kuat, pemerintah membidik angka 8 persen pada 2029. Target itu dipandang sebagai bagian dari upaya mempercepat peningkatan pendapatan masyarakat sebelum struktur demografi Indonesia berubah.
Target pertumbuhan 6 persen pada 2027 juga telah menjadi asumsi dalam kebijakan fiskal pemerintah. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 yang sebesar 5,4 persen. Pemerintah juga menargetkan inflasi 2027 berada di kisaran 2,5 persen, sementara tingkat pengangguran terbuka diarahkan turun menjadi 4,30 hingga 4,87 persen. Pemerintah berharap pertumbuhan yang lebih tinggi dapat berjalan bersamaan dengan perbaikan indikator kesejahteraan masyarakat.
Untuk mencapai sasaran tersebut, peningkatan produktivitas dan penciptaan lapangan kerja menjadi dua faktor yang ditekankan Juda. Besarnya populasi usia muda perlu diimbangi dengan kesempatan kerja yang memadai sehingga tenaga produktif dapat menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian. Pemerintah juga membutuhkan pertumbuhan investasi yang lebih tinggi untuk memperluas kapasitas produksi dan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Dalam kerangka RAPBN 2027, pertumbuhan investasi ditargetkan mencapai sekitar 7 persen dengan sektor swasta didorong menjadi salah satu motor utamanya.
Pemerintah juga berupaya memperkuat mesin pertumbuhan melalui investasi, ekspor, hilirisasi, konsumsi masyarakat serta kebijakan fiskal yang mendukung kegiatan produktif. Peran pemerintah diarahkan menjadi katalis, sementara sektor swasta dan Danantara diharapkan meningkatkan investasi pada berbagai sektor strategis. Stabilitas ekonomi makro tetap menjadi perhatian agar percepatan pertumbuhan tidak menimbulkan ketidakseimbangan baru. Pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar serta kebijakan suku bunga yang kompetitif menjadi bagian dari strategi menjaga momentum tersebut.
Juda menilai kesempatan Indonesia untuk melakukan akselerasi ekonomi tidak berlangsung tanpa batas karena perubahan struktur penduduk akan terus berjalan. Karena itu, target 6 persen pada 2027 hingga 8 persen pada 2029 diposisikan sebagai tahapan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan nasional dalam beberapa tahun mendatang. Pertumbuhan yang lebih tinggi juga diharapkan menghasilkan lapangan kerja yang cukup bagi penduduk usia produktif. Pemerintah pun menjadikan periode bonus demografi sebagai momentum penting untuk memperkuat fondasi menuju Indonesia berpendapatan tinggi dan menghindari risiko menjadi negara yang menua sebelum mencapai tingkat kemakmuran yang lebih tinggi.




