Jakarta, 4 September 2026 – Presenter Indra Bekti memutuskan menunda rencana memboyong keluarganya untuk pindah dan menetap di Australia. Setelah melalui berbagai pertimbangan bersama sang istri, Aldila Jelita, Bekti memilih tetap berada di Indonesia untuk sementara waktu. Pendidikan kedua putrinya menjadi salah satu alasan utama di balik keputusan tersebut, terutama karena anak sulungnya dalam waktu dekat akan memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain pendidikan, kondisi keuangan keluarga juga menjadi bagian penting dalam perhitungan sebelum mengambil keputusan besar untuk menetap di luar negeri. Bekti tidak ingin rencana tersebut dipaksakan apabila persiapan keluarga belum benar-benar matang. Kendati ditunda, Australia tetap menjadi salah satu tujuan yang diharapkan dapat menjadi tempat pendidikan anak-anaknya pada masa mendatang.
Keinginan pindah ke Australia sebenarnya telah dipersiapkan Bekti dan Aldila sejak cukup lama. Keduanya pernah melakukan survei langsung ke Negeri Kanguru untuk melihat lingkungan tempat tinggal sekaligus mencari informasi mengenai pendidikan yang tersedia bagi anak-anak mereka. Sydney dan Melbourne menjadi dua kota yang sempat dipertimbangkan karena memiliki berbagai pilihan sekolah dan fasilitas pendidikan. Bekti bahkan mencari sekolah yang dinilai sesuai dengan kebutuhan keluarga, termasuk mempertimbangkan keberadaan sekolah dengan lingkungan pendidikan Muslim. Persiapan tersebut menunjukkan rencana pindah bukan sekadar keinginan sesaat, melainkan telah dibicarakan secara serius di dalam keluarga. Namun perkembangan terbaru membuat pasangan tersebut memilih tidak terburu-buru mengambil keputusan.
Persoalan finansial menjadi salah satu faktor yang akhirnya membuat rencana tersebut harus ditunda. Menetap di negara lain membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari pendidikan, tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, hingga berbagai keperluan administratif. Bekti menyadari keputusan pindah harus dilakukan dengan perhitungan matang agar tidak justru memberikan beban baru kepada keluarga. Karena itu, dirinya memilih melanjutkan aktivitas di Indonesia sembari memperkuat kondisi keuangan dan mempersiapkan kebutuhan pendidikan anak. Langkah tersebut dinilai lebih realistis dibandingkan memaksakan kepindahan dalam waktu dekat. Bagi Bekti dan Aldila, masa depan anak tetap menjadi prioritas sehingga keputusan finansial harus ditempatkan dalam kerangka kepentingan keluarga.
Sebelumnya, Bekti bahkan sempat mencari peluang pekerjaan yang dapat dijalaninya apabila benar-benar menetap di Australia. Salah satu bidang yang diminatinya adalah menjadi pengajar public speaking karena memiliki pengalaman panjang sebagai presenter dan pembawa acara. Ia pernah mencoba mengajukan lamaran untuk posisi yang berkaitan dengan kemampuan tersebut. Bekti juga sempat menyatakan tidak menutup diri terhadap berbagai jenis pekerjaan apabila nantinya harus membangun kehidupan dari awal di Australia. Sikap tersebut memperlihatkan dirinya memahami bahwa kehidupan di luar negeri dapat sangat berbeda dibandingkan karier yang selama bertahun-tahun telah dibangunnya di Indonesia. Namun selama kepindahan belum terealisasi, aktivitasnya di industri hiburan Tanah Air tetap berjalan seperti biasa.
Rencana pendidikan anak menjadi alasan yang sejak awal paling kuat mendorong Bekti dan Aldila mempertimbangkan Australia. Pasangan tersebut ingin memberikan kesempatan kepada anak-anaknya memperoleh pengalaman pendidikan internasional sekaligus mengenal lingkungan baru. Kemampuan berbahasa Inggris kedua putrinya juga dinilai menjadi modal apabila nantinya mereka benar-benar melanjutkan pendidikan di negara tersebut. Bekti melihat kemampuan bahasa dapat membantu proses adaptasi, baik dalam kegiatan akademik maupun kehidupan sehari-hari. Meski demikian, orang tua tetap harus mempertimbangkan kesiapan anak secara menyeluruh sebelum melakukan perpindahan besar. Karena itu, keputusan mempertahankan pendidikan di Indonesia untuk sementara waktu dianggap menjadi pilihan yang paling memungkinkan saat ini.
Bekti dan Aldila juga berharap anak-anak mereka dapat memperoleh beasiswa apabila suatu hari melanjutkan pendidikan di Australia. Beasiswa dinilai dapat membuka peluang sekaligus membantu meringankan kebutuhan biaya pendidikan yang cukup besar. Keinginan tersebut sebelumnya telah disampaikan kepada anak-anak agar mereka mulai membangun prestasi dan mempersiapkan kemampuan akademik sejak dini. Bekti tidak ingin seluruh proses pendidikan hanya bergantung pada kemampuan finansial orang tua. Anak-anak juga didorong memiliki motivasi dan usaha sendiri untuk mendapatkan kesempatan pendidikan terbaik. Dengan cara tersebut, rencana sekolah di Australia tetap dapat diperjuangkan meskipun kepindahan seluruh keluarga untuk sementara harus ditunda.
Keputusan terbaru tersebut juga memperlihatkan perubahan dari rencana keluarga yang sebelumnya cukup intensif dipersiapkan. Bekti bersama istri dan anak-anaknya pernah menghabiskan waktu sekitar dua minggu di Australia untuk melihat secara langsung berbagai kebutuhan apabila mereka menetap di sana. Selain sekolah, mereka mencari informasi mengenai kehidupan sehari-hari dan peluang yang dapat dikembangkan setelah pindah. Pengalaman tersebut memberikan gambaran lebih konkret mengenai konsekuensi finansial maupun penyesuaian yang harus dilakukan. Setelah kembali ke Indonesia, keluarga tersebut terus melakukan perhitungan mengenai waktu paling tepat untuk mewujudkan rencana tersebut. Hasil pertimbangan itu kemudian mengarah pada keputusan bahwa kepindahan tidak perlu dilakukan dalam waktu dekat.
Aldila sebelumnya juga memikirkan kemungkinan membangun usaha ketika keluarga tersebut nantinya berada di Australia. Bisnis makanan dan produk yang memiliki kedekatan dengan masyarakat Indonesia menjadi salah satu peluang yang sempat dipertimbangkan. Gagasan tersebut muncul sebagai bagian dari persiapan membangun sumber pendapatan apabila mereka tidak sepenuhnya bergantung pada pekerjaan Bekti di industri hiburan Indonesia. Pasangan tersebut menyadari bahwa pindah negara berarti harus mempersiapkan kehidupan secara lebih luas, bukan sekadar menentukan tempat tinggal dan sekolah. Pekerjaan, usaha, jaringan sosial, serta kebutuhan keluarga harus direncanakan secara bersamaan. Berbagai persiapan itulah yang membuat keputusan pindah membutuhkan waktu panjang.
Meski rencana menetap di Australia tertunda, Bekti tidak menganggap impian tersebut telah berakhir. Australia tetap menjadi salah satu pilihan yang ingin diwujudkan apabila kondisi keluarga sudah lebih memungkinkan. Fokus terdekat saat ini adalah memastikan pendidikan anak-anak tetap berjalan baik di Indonesia sambil mempersiapkan kesempatan berikutnya. Apabila nantinya salah satu anak memperoleh beasiswa atau kesempatan pendidikan yang sesuai, rencana tersebut dapat kembali dipertimbangkan. Bekti dan Aldila memilih menjalani proses secara bertahap tanpa menetapkan kepindahan sebagai sesuatu yang harus segera diwujudkan. Pendekatan tersebut memberikan keluarga lebih banyak waktu untuk mempersiapkan aspek finansial maupun pendidikan.
Untuk sementara, Indra Bekti akan tetap menjalani kehidupan dan kariernya di Indonesia bersama Aldila Jelita serta kedua putri mereka. Keputusan menunda kepindahan diambil setelah mempertimbangkan pendidikan anak sulung yang segera memasuki SMA sekaligus kemampuan finansial keluarga. Persiapan yang sebelumnya telah dilakukan, termasuk survei sekolah di Sydney dan Melbourne serta pencarian peluang pekerjaan, tetap dapat menjadi bekal apabila rencana tersebut kembali dilanjutkan. Harapan agar anak-anak memperoleh kesempatan bersekolah di Australia juga masih dipertahankan, salah satunya melalui jalur beasiswa. Bekti memilih tidak memaksakan waktu kepindahan dan memberikan ruang agar seluruh kebutuhan keluarga dapat dipersiapkan secara lebih matang. Australia dengan demikian masih menjadi bagian dari rencana masa depan keluarga Indra Bekti, hanya saja realisasinya harus menunggu kondisi dan kesempatan yang dinilai lebih tepat.





