Washington, 28 September 2026 –
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal Iran yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari sebagai bagian dari langkah menuju penghentian konflik dan dimulainya kembali perundingan. Trump secara terbuka menyatakan tidak menerima kesepakatan yang diajukan Teheran. Meski demikian, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup karena komunikasi tidak langsung melalui mediator masih berlangsung. Perkembangan tersebut membuat ketegangan AS-Iran kembali berada di antara kemungkinan negosiasi dan berlanjutnya operasi militer.
Proposal Iran disampaikan melalui mediator Qatar dan memuat sejumlah tahapan sebelum Selat Hormuz kembali dibuka. Teheran meminta Washington mengakhiri blokade terhadap pelabuhan Iran, memberikan kelonggaran terhadap penjualan minyak, serta membuka akses terhadap aset Iran yang dibekukan. Apabila persyaratan tersebut dipenuhi, Iran menyatakan dapat memulihkan pelayaran melalui Selat Hormuz dalam waktu sekitar satu pekan dan kembali membicarakan kesepakatan yang lebih luas. Jalur strategis tersebut memiliki peranan besar terhadap perdagangan energi global.
Trump menilai proposal tersebut belum sesuai dengan kesepakatan yang diinginkan pemerintahannya. Washington menginginkan konsesi lebih luas dari Iran, termasuk mengenai program nuklir, sementara Teheran berfokus pada penghentian tekanan ekonomi dan militer serta pemulihan aktivitas pelayaran. Perbedaan tuntutan itu menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya mencari jalan keluar. Pemerintah AS juga masih menggunakan blokade dan tekanan ekonomi sebagai instrumen untuk meningkatkan posisi tawarnya terhadap Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi merespons penolakan tersebut dengan menegaskan bahwa negaranya masih membuka pintu diplomasi. Namun, ia juga mengatakan Iran telah mempersiapkan diri apabila operasi militer kembali meningkat. Araghchi menyatakan Teheran siap bernegosiasi sekaligus siap menghadapi perang apabila kembali mendapat serangan. Pernyataan itu menunjukkan Iran belum menarik persyaratan yang diajukannya meskipun Trump telah menyatakan penolakan secara terbuka.
Teheran pada saat yang sama menyebut belum menerima pemberitahuan resmi melalui mediator mengenai penolakan Washington. Araghchi mengatakan pemerintah Iran masih menunggu posisi definitif AS disampaikan melalui saluran mediasi sebelum menentukan langkah berikutnya. Karena itu, pernyataan kesiapan menghadapi perang tidak berarti negosiasi telah sepenuhnya berakhir. Qatar dan mediator regional lainnya masih berupaya mempertemukan perbedaan posisi kedua negara.
Selat Hormuz menjadi pusat sengketa karena merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global melewati kawasan tersebut. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran telah meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan energi dan turut memberikan tekanan terhadap harga minyak internasional. Negara-negara Teluk juga berkepentingan mendorong pemulihan pelayaran karena stabilitas jalur tersebut berpengaruh langsung terhadap ekspor energi kawasan.
Meski proposal awal Iran ditolak, peluang perundingan belum sepenuhnya hilang. Trump mengatakan dirinya memperkirakan pembicaraan dengan Iran kembali berlangsung pekan ini, sementara Teheran juga menyatakan masih mengutamakan kemungkinan penyelesaian diplomatik. Namun, jarak antara tuntutan kedua pihak tetap besar dan masing-masing masih mempertahankan tekanan ekonomi maupun militer sebagai bagian dari strategi negosiasi. Situasi Selat Hormuz karena itu masih menjadi faktor penting yang menentukan apakah hubungan Washington dan Teheran bergerak menuju kesepakatan baru atau kembali memasuki fase konflik terbuka.




