Jakarta, 7 September 2026 – Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengklaim rudal balistik yang diluncurkan pasukannya berhasil menghantam sebuah kapal induk dan kapal perusak Angkatan Laut Amerika Serikat di perairan regional. Iran menyebut kedua kapal perang tersebut mengalami kerusakan dan kemudian meninggalkan area pertempuran. Klaim itu muncul setelah Pasukan Dirgantara IRGC meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah dua kapal perang AS pada Sabtu, 5 September 2026. Namun, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM memberikan keterangan berbeda mengenai hasil serangan tersebut. Militer AS mengakui dua kapal perangnya menjadi sasaran rudal Iran, tetapi menyatakan seluruh serangan berhasil dihindari. CENTCOM juga menegaskan tidak ada personel Amerika yang terluka dalam insiden tersebut. Perbedaan keterangan membuat klaim mengenai kerusakan kapal induk AS hingga kini belum dapat dikonfirmasi secara independen.
IRGC menyampaikan bahwa serangan dilakukan setelah kapal-kapal perang Amerika Serikat dituding mengganggu kapal Iran dan terlibat dalam blokade maritim terhadap negara tersebut. Pasukan Dirgantara IRGC kemudian diperintahkan meluncurkan beberapa rudal balistik menuju kapal induk dan kapal perusak yang berada di kawasan tersebut. Menurut versi Iran, rudal berhasil mengenai sasaran dan menimbulkan kerusakan pada kedua kapal. IRGC juga mengklaim kapal-kapal tersebut mundur dari area pertempuran setelah serangan berlangsung. Iran menggunakan pengakuan CENTCOM bahwa dua kapal menjadi sasaran sebagai bagian dari argumennya mengenai keberhasilan operasi. Meski demikian, pernyataan CENTCOM hanya mengonfirmasi adanya serangan rudal, bukan keberhasilan rudal mengenai kapal. Belum tersedia bukti independen yang dapat memastikan tingkat kerusakan seperti yang diklaim Teheran.
CENTCOM dalam pernyataannya menegaskan sebuah kapal induk dan kapal perusak berpeluru kendali berhasil melakukan manuver untuk menghindari beberapa serangan Iran. Militer AS menyebut tidak ada rudal yang menyebabkan kerusakan maupun korban di antara personelnya. Identitas dua kapal perang yang menjadi sasaran tidak diumumkan secara terperinci dalam pernyataan awal CENTCOM. Amerika Serikat juga menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang tidak beralasan terhadap kapal-kapalnya yang sedang melakukan patroli di perairan regional. Setelah serangan rudal berlangsung, militer AS melakukan operasi balasan terhadap tiga kapal tanker minyak mentah Iran. Washington menyatakan tindakan tersebut merupakan respons langsung atas upaya Iran menyerang kapal perangnya. Perbedaan informasi dari kedua pihak membuat perkembangan konflik di kawasan semakin sulit diverifikasi hanya berdasarkan pernyataan militer masing-masing negara.
Dalam operasi balasan pada 5 September, CENTCOM menyatakan pasukannya menyerang tiga kapal tanker yang dianggap menjadi bagian dari jaringan pengiriman minyak yang mendukung IRGC. Kapal M/T Downy yang berada di sekitar Pulau Kharg dan M/T Stark 1 di dekat Jask disebut mengalami kerusakan hingga tidak dapat lagi beroperasi. Sementara kapal tanker M/T Kylo, yang juga dikenal sebagai Noxen, dihancurkan di Teluk Oman setelah awak kapal diperintahkan meninggalkan kapal. Amerika Serikat menuduh ketiga tanker tersebut menjadi bagian dari jaringan bernilai miliaran dolar yang digunakan untuk mendukung pembiayaan IRGC dan kelompok sekutunya di kawasan. Iran menolak tekanan tersebut dan kemudian mengumumkan serangkaian tindakan balasan terhadap kapal yang dianggap berkaitan dengan AS. Pertukaran serangan tersebut memperlihatkan konflik kedua negara semakin bergeser ke kawasan laut. Jalur pelayaran dan perdagangan minyak kini menjadi salah satu pusat konfrontasi.
Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper memperingatkan bahwa serangan terhadap kapal perang Amerika akan mendapatkan respons dengan biaya ekonomi yang lebih besar bagi Iran. Pernyataan tersebut menunjukkan Washington memilih membalas serangan terhadap aset militernya dengan menargetkan kemampuan Iran memperoleh pendapatan melalui pengiriman minyak. Iran kemudian memperingatkan bahwa serangan lanjutan Amerika akan menghadapi respons yang lebih berat. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga menyatakan Teheran tidak lagi menggunakan pendekatan balasan secara proporsional terhadap setiap tindakan lawan. Menurutnya, serangan baru terhadap kepentingan dan keamanan Iran dapat dibalas dengan tindakan yang lebih cepat dan lebih keras. Ancaman tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa pertukaran serangan dapat berkembang menjadi operasi militer yang semakin luas. Kedua negara sejauh ini belum menunjukkan tanda akan menghentikan tekanan terhadap satu sama lain.
Iran juga mengklaim menyerang sejumlah kapal lain setelah Amerika Serikat menghantam tanker minyaknya. Angkatan Laut IRGC menyatakan tiga kapal tanker yang bergerak melalui jalur yang dianggap tidak mendapat izin Iran di Selat Hormuz telah menjadi sasaran. Tiga kapal lain yang disebut mempunyai hubungan dengan Amerika Serikat juga diklaim diserang di lokasi berbeda. Tidak seluruh klaim tersebut dapat diverifikasi secara independen karena keterbatasan informasi dari kawasan pertempuran. Beberapa jam kemudian, Iran kembali mengumumkan serangan terhadap kapal permukaan tanpa awak milik militer Amerika yang disebut mencoba memasuki zona yang dilindungi di Selat Hormuz. Iran tidak memberikan penjelasan terperinci mengenai jenis senjata maupun kerusakan yang ditimbulkan dalam serangan tersebut. Pihak Amerika membantah sejumlah klaim Iran mengenai keberhasilan serangan terhadap aset militernya.
Pemilihan kapal induk sebagai sasaran rudal Iran menjadi perhatian karena kapal jenis tersebut merupakan salah satu aset militer paling strategis Amerika Serikat. Kapal induk digunakan sebagai pangkalan udara bergerak yang memungkinkan pesawat tempur beroperasi dalam jarak jauh tanpa bergantung pada pangkalan di daratan. Kapal tersebut juga biasanya bergerak bersama kelompok tempur yang dilengkapi kapal perusak, kapal penjelajah, kapal selam, serta sistem pertahanan udara dan rudal berlapis. Serangan langsung terhadap kapal induk karena itu dipandang sebagai eskalasi signifikan dibandingkan serangan terhadap fasilitas atau kapal komersial. Namun, keberhasilan sebuah rudal mencapai kawasan tempat kapal berada tidak berarti rudal tersebut otomatis mengenai sasaran. Kapal perang modern dapat melakukan manuver dan menggunakan berbagai sistem pertahanan untuk menghadapi ancaman rudal. Itulah sebabnya verifikasi mengenai klaim kerusakan membutuhkan bukti tambahan di luar pernyataan salah satu pihak.
Konfrontasi terbaru terjadi di tengah persaingan Amerika Serikat dan Iran dalam mengendalikan aktivitas pelayaran di sekitar Selat Hormuz. Jalur tersebut mempunyai posisi sangat strategis karena menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dunia. Gangguan terhadap pelayaran dapat memengaruhi pasokan energi global sekaligus mendorong kenaikan harga minyak. Iran berusaha menerapkan pembatasan terhadap kapal yang melintas melalui jalur yang tidak mendapat persetujuannya. Amerika Serikat pada sisi lain meningkatkan operasi untuk menjaga jalur pelayaran sekaligus memberikan tekanan terhadap ekspor minyak Iran. Kondisi tersebut membuat kapal perang, tanker minyak, dan kapal komersial berada semakin dekat dengan aktivitas militer kedua negara. Risiko salah perhitungan juga meningkat ketika kapal maupun pesawat dari kedua pihak beroperasi di kawasan yang sama.
Ketegangan Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung selama sekitar enam bulan sejak konflik meningkat tajam pada akhir Februari 2026. Setelah sempat mengalami periode relatif lebih tenang pada Agustus, pertukaran serangan kembali meningkat menjelang awal September. Upaya diplomatik untuk menghasilkan penyelesaian permanen belum berhasil menghentikan konfrontasi. Tekanan ekonomi terhadap Iran juga meningkat akibat sanksi dan pembatasan terhadap ekspor minyaknya. Teheran merespons dengan memanfaatkan posisi strategis Selat Hormuz untuk memberikan tekanan terhadap kepentingan ekonomi dan militer Amerika. Kondisi tersebut membuat konflik tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga terhadap perdagangan dan harga energi internasional. Setiap serangan terhadap tanker atau kapal perang berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai keselamatan jalur pelayaran.
Klaim Iran bahwa kapal induk dan kapal perusak AS mengalami kerusakan masih menjadi bagian dari perang informasi antara kedua pihak dan belum mendapatkan konfirmasi independen. Fakta yang telah diakui kedua pihak adalah Iran memang meluncurkan rudal balistik menuju dua kapal perang Amerika Serikat pada 5 September. Perbedaannya terletak pada hasil serangan tersebut, dengan Teheran menyatakan rudalnya mengenai sasaran sementara Washington menegaskan kedua kapal berhasil menghindarinya. Tidak adanya laporan korban dari pihak Amerika juga menjadi bagian dari pernyataan resmi CENTCOM. Situasi di sekitar Selat Hormuz tetap berisiko mengalami eskalasi karena Iran dan AS sama-sama mengancam memberikan balasan lebih keras terhadap serangan berikutnya. Aktivitas militer dan pelayaran di kawasan tersebut terus mendapatkan perhatian internasional karena dampaknya dapat meluas terhadap keamanan serta pasokan energi global. Selama bukti independen mengenai kondisi kapal belum tersedia, klaim kerusakan kapal induk AS tetap perlu diperlakukan sebagai pernyataan Iran yang dibantah oleh Amerika Serikat.






