Jakarta, 4 Mei 2026 – Polemik di media sosial kembali memanas setelah sosok Na Daehoon meluapkan kemarahannya terhadap Safrie, yang diketahui merupakan kekasih dari selebgram Jule. Reaksi tersebut dipicu oleh pernyataan Safrie yang menjadikan anak sebagai bahan lelucon dalam sebuah konten yang beredar luas.
Konten tersebut menuai kritik keras dari warganet karena dianggap tidak sensitif dan melewati batas etika. Banyak pihak menilai bahwa anak-anak tidak seharusnya dijadikan objek candaan, terlebih dalam ruang publik yang dapat diakses luas oleh berbagai kalangan.
Na Daehoon secara terbuka menyampaikan ketidaksetujuannya melalui unggahan di media sosial. Ia menilai bahwa tindakan tersebut tidak mencerminkan sikap yang bertanggung jawab, terutama sebagai figur publik yang memiliki pengaruh besar.
“Hal seperti ini tidak bisa dianggap biasa. Ada batas yang harus dijaga,” tulisnya dalam pernyataan yang kemudian viral dan mendapat banyak dukungan.
Berikut sejumlah fakta yang menjadi sorotan dalam polemik ini:
Pertama, konten yang dibuat Safrie memicu reaksi cepat dari publik karena dianggap menyentuh isu sensitif terkait anak. Dalam waktu singkat, video tersebut menyebar luas dan memancing berbagai komentar negatif.
Kedua, reaksi keras dari Na Daehoon justru memperbesar perhatian publik terhadap kasus ini. Banyak warganet mendukung sikapnya yang dinilai berani menyuarakan kepedulian terhadap etika dalam pembuatan konten.
Ketiga, hingga saat ini belum ada klarifikasi resmi dari Safrie terkait kontroversi tersebut. Sementara itu, tekanan dari publik terus meningkat, termasuk seruan agar konten serupa tidak lagi diproduksi.
Keempat, kasus ini kembali membuka diskusi tentang batasan dalam dunia konten digital, khususnya terkait perlindungan anak dan tanggung jawab moral para kreator.
Pengamat media sosial menilai bahwa fenomena ini menunjukkan semakin tingginya kesadaran publik terhadap isu etika di dunia digital. Konten yang dianggap tidak pantas kini lebih cepat mendapat respons kolektif dari masyarakat.
Di tengah polemik yang berkembang, banyak pihak berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran bagi para kreator konten untuk lebih bijak dalam berkarya. Kebebasan berekspresi tetap harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial, terutama ketika menyangkut isu sensitif.
Kontroversi ini masih terus bergulir di berbagai platform, dengan publik menantikan langkah selanjutnya dari pihak-pihak yang terlibat.






