Jakarta, 15 Mei 2026 – Iran disebut mulai memanfaatkan isu kabel internet bawah laut sebagai bagian dari strategi baru untuk menekan negara-negara Barat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah. Sejumlah media yang dikaitkan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC dilaporkan mengusulkan pemanfaatan jalur kabel bawah laut di Selat Hormuz sebagai alat tekanan ekonomi dan geopolitik terhadap negara-negara yang bergantung pada infrastruktur digital tersebut. Wacana tersebut langsung memicu perhatian internasional karena kabel bawah laut merupakan salah satu infrastruktur vital yang menopang sebagian besar lalu lintas internet dan transaksi digital dunia.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur strategis perdagangan minyak dunia, namun kawasan tersebut juga menjadi lokasi penting bagi jaringan kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Sejumlah laporan menyebut media yang dekat dengan IRGC mengusulkan penerapan biaya terhadap lalu lintas data digital yang melewati kawasan tersebut, bahkan muncul ancaman mengenai kemungkinan gangguan terhadap jaringan kabel sebagai bentuk tekanan terhadap negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk. Pengamat keamanan digital menilai wacana tersebut menunjukkan bagaimana infrastruktur internet global kini semakin masuk dalam arena persaingan geopolitik modern.
Pakar teknologi dan keamanan siber menyebut kabel bawah laut memegang peran sangat penting karena lebih dari 95 persen lalu lintas data internet global bergantung pada jaringan tersebut. Gangguan terhadap kabel bawah laut dapat memicu dampak besar terhadap komunikasi internasional, transaksi keuangan, layanan cloud, hingga operasional perusahaan teknologi global. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai insiden kerusakan kabel bawah laut di kawasan Laut Merah dan wilayah strategis lain memang telah menimbulkan gangguan internet lintas negara. Karena itu, ancaman terhadap infrastruktur digital kini semakin dipandang sebagai bagian dari risiko keamanan global di tengah meningkatnya konflik geopolitik.
Situasi ini juga mendorong sejumlah negara dan organisasi internasional mencari jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap kawasan yang dianggap rawan konflik. Uni Eropa misalnya dilaporkan mulai mempertimbangkan pembangunan kabel bawah laut melalui jalur Kutub Utara guna menghubungkan Eropa dan Asia tanpa melewati wilayah Timur Tengah maupun Rusia. Langkah tersebut menunjukkan bahwa keamanan infrastruktur digital kini menjadi perhatian strategis yang setara dengan jalur perdagangan energi dan transportasi global.
Wacana pemanfaatan kabel bawah laut oleh Iran sebagai alat tekanan politik kini semakin memperlihatkan bagaimana persaingan global tidak lagi hanya terjadi di sektor militer dan ekonomi, tetapi juga infrastruktur digital. Banyak pihak berharap ketegangan yang berkembang tidak sampai memicu gangguan nyata terhadap jaringan internet internasional karena dampaknya dapat dirasakan oleh banyak negara dan sektor ekonomi dunia. Di tengah ketergantungan global terhadap konektivitas digital, keamanan kabel bawah laut diperkirakan akan menjadi salah satu isu strategis paling penting dalam geopolitik modern.







