Jakarta, 30 Agustus 2026 – Pemerintah menyebut minat investor untuk masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) masih sangat tinggi. Tingginya minat tersebut terlihat dari kondisi lahan di kedua kawasan yang saat ini telah dimanfaatkan hingga 100 persen. Situasi itu membuat sejumlah calon investor harus menunggu proses perluasan kawasan sebelum dapat merealisasikan rencana investasinya. Pemerintah menilai kondisi tersebut menjadi gambaran kuat bahwa Jawa Tengah masih memiliki daya tarik besar bagi investor, terutama untuk sektor industri manufaktur. Perluasan kawasan pun mulai diajukan agar peluang investasi yang masih terbuka dapat ditampung dan tidak beralih ke wilayah lain.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan potensi investor yang masih akan masuk ke dua kawasan tersebut sangat besar. Menurutnya, lahan yang tersedia saat ini sudah sepenuhnya digunakan sehingga pemerintah perlu melakukan pengembangan dan perluasan kawasan. Proses pengajuan perluasan masih membutuhkan sejumlah tahapan sebelum dapat direalisasikan, tetapi calon investor disebut sudah berada dalam antrean. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap kawasan industri di Jawa Tengah terus meningkat seiring bertambahnya aktivitas manufaktur. Pemerintah berharap proses perluasan dapat dilakukan dengan tetap memberikan kepastian kepada investor mengenai ketersediaan lahan dan fasilitas pendukung.
Tingginya ketertarikan terhadap KEK Kendal dan kawasan industri Batang tidak terlepas dari posisi Jawa Tengah sebagai salah satu basis industri manufaktur yang berkembang pesat. Sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 33,18 persen terhadap perekonomian Jawa Tengah. Besarnya kontribusi tersebut membuat pengembangan kawasan industri menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah. Kehadiran perusahaan baru juga berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi di wilayah sekitar kawasan industri. Semakin banyak industri yang masuk, semakin besar pula kebutuhan terhadap jasa logistik, transportasi, pergudangan, hingga berbagai usaha pendukung lainnya.
Kinerja ekonomi Jawa Tengah turut memperlihatkan kondisi yang cukup positif sepanjang semester pertama 2026. Perekonomian provinsi tersebut tumbuh 5,80 persen secara kumulatif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan tingginya aktivitas investasi dan perkembangan sektor manufaktur. Pemerintah melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu tujuan utama investasi industri di Indonesia. Pengembangan kawasan seperti KEK Kendal dan Batang diharapkan dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Dengan bertambahnya kapasitas kawasan industri, pemerintah juga memiliki ruang lebih besar untuk menarik investasi baru dari dalam maupun luar negeri.
Realisasi investasi Jawa Tengah pada semester I 2026 tercatat mencapai Rp48,54 triliun. Angka tersebut setara dengan 48,99 persen dari target investasi Jawa Tengah sepanjang 2026 yang mencapai Rp99,09 triliun. Dari jumlah tersebut, penanaman modal asing atau PMA menyumbang Rp25,92 triliun, sedangkan penanaman modal dalam negeri atau PMDN mencapai Rp22,62 triliun. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa investor asing masih memiliki peran besar dalam perkembangan investasi di Jawa Tengah. Pada saat yang sama, investasi domestik juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap perekonomian daerah. Pemerintah masih memiliki waktu untuk mengejar target tahunan dengan memanfaatkan minat investasi yang terus berkembang di berbagai kawasan industri.
Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang termasuk daerah dengan realisasi investasi terbesar di Jawa Tengah pada periode tersebut. Kendal mencatat realisasi sekitar Rp6,56 triliun, sedangkan Batang mencapai Rp6,11 triliun. Kedua daerah tersebut berada di antara lima wilayah dengan nilai investasi tertinggi di Jawa Tengah bersama Kota Semarang, Temanggung, dan Demak. Angka tersebut menunjukkan bahwa kawasan industri yang berkembang di Kendal dan Batang telah memberikan kontribusi nyata terhadap aktivitas investasi daerah. Keberadaan kawasan industri berskala besar juga membuat kedua kabupaten tersebut semakin menarik bagi perusahaan yang membutuhkan fasilitas produksi dan akses distribusi. Pertumbuhan investasi tersebut berpotensi terus meningkat apabila perluasan kawasan dapat segera dilakukan.
KEK Kendal sendiri telah berkembang menjadi salah satu pusat industri penting di Jawa Tengah dengan berbagai perusahaan dari sektor manufaktur yang telah beroperasi. Kawasan tersebut memiliki posisi strategis karena berada di jalur Pantura dan memiliki akses yang relatif dekat dengan berbagai infrastruktur transportasi. Kehadiran industri di kawasan ini juga mendorong peningkatan kebutuhan terhadap tenaga kerja serta berbagai layanan pendukung. Pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar masyarakat lokal dapat mengambil bagian dalam pertumbuhan kawasan industri. Peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi penting agar masuknya investasi tidak hanya memberikan nilai ekonomi bagi perusahaan, tetapi juga menciptakan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat sekitar.
Sementara itu, kawasan industri Batang juga terus menunjukkan perkembangan sebagai salah satu pusat investasi baru di Jawa Tengah. Berbagai proyek industri telah masuk dan sebagian lainnya masih berada dalam tahap persiapan. Pada semester I 2026, Kabupaten Batang mencatat realisasi investasi lebih dari Rp6,1 triliun yang turut menyerap ribuan tenaga kerja lokal. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kawasan Batang semakin mendapat perhatian dari investor yang membutuhkan lokasi untuk kegiatan produksi. Pemerintah daerah juga terus mendorong peningkatan fasilitas dan kemudahan investasi agar perusahaan dapat menjalankan kegiatan usahanya dengan lebih efisien. Pertumbuhan kawasan tersebut diperkirakan akan semakin cepat seiring bertambahnya proyek baru yang masuk.
Salah satu contoh investasi yang memperkuat prospek Batang adalah komitmen perusahaan asal Australia, Pure Battery Technologies, untuk menanamkan modal sekitar 350 juta dolar AS. Investasi tersebut diarahkan untuk membangun fasilitas produksi bahan prekursor katoda aktif atau PCAM yang berkaitan dengan rantai industri baterai. Proyek tersebut direncanakan mulai dibangun pada 2027 dan diproyeksikan menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja selama masa konstruksi. Masuknya investasi pada sektor yang berkaitan dengan energi baru juga menunjukkan bahwa kawasan industri Jawa Tengah tidak hanya menarik perusahaan manufaktur konvensional. Perkembangan industri baterai dan kendaraan listrik dapat membuka peluang bagi tumbuhnya ekosistem industri baru di sekitar kawasan tersebut.
Meski minat investor tinggi, pemerintah mengakui bahwa kepastian perizinan masih menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan. Investor membutuhkan kejelasan mengenai perizinan dasar, tata ruang, fasilitas, serta berbagai ketentuan yang harus dipenuhi sebelum proyek dapat berjalan. Proses yang tidak pasti dapat membuat investor menunda keputusan atau mengalihkan rencana investasi ke kawasan lain. Karena itu, pemerintah pusat membuka ruang konsultasi bagi pemerintah daerah maupun investor ketika terdapat kendala dalam proses investasi. Koordinasi tersebut diperlukan agar persoalan yang muncul dapat segera dicarikan solusi tanpa menghambat masuknya modal ke daerah.
Selain perizinan, ketersediaan infrastruktur juga menjadi faktor yang menentukan daya tarik kawasan industri. Investor membutuhkan akses jalan, pelabuhan, listrik, air, jaringan telekomunikasi, serta fasilitas logistik yang mampu mendukung kegiatan produksi dalam skala besar. Pemerintah Jawa Tengah sebelumnya juga mendorong penguatan konektivitas di kawasan Kendal dan Batang untuk mendukung aktivitas industri. Infrastruktur yang semakin baik dapat membantu menekan biaya distribusi sekaligus mempercepat pengiriman bahan baku dan produk. Dengan demikian, perluasan lahan harus diikuti dengan pembangunan fasilitas pendukung agar kawasan baru dapat langsung dimanfaatkan oleh investor. Kesiapan infrastruktur akan menjadi salah satu penentu apakah antrean investor dapat segera berubah menjadi realisasi investasi.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa ekspansi kawasan industri tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat dan lingkungan sekitar. Pertumbuhan industri yang cepat dapat memberikan manfaat ekonomi besar, tetapi juga membutuhkan pengelolaan tata ruang yang baik agar tidak menimbulkan persoalan baru. Kebutuhan tenaga kerja, perumahan, transportasi, fasilitas kesehatan, dan layanan publik harus dipersiapkan seiring bertambahnya jumlah pekerja. Pemerintah daerah perlu memastikan perkembangan kawasan industri berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Perencanaan yang matang akan membantu menciptakan kawasan industri yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu berkembang secara berkelanjutan.
Dengan kondisi lahan yang telah terpakai penuh dan investor yang masih menunggu, pemerintah kini menghadapi tantangan untuk mempercepat proses perluasan KEK Kendal dan kawasan industri Batang. Keputusan mengenai pengembangan kawasan akan menentukan kemampuan Jawa Tengah dalam menampung gelombang investasi berikutnya. Tingginya minat investor menjadi peluang besar bagi daerah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat sektor manufaktur. Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan kepastian perizinan, kesiapan infrastruktur, serta ketersediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. Jika berbagai persoalan tersebut dapat ditangani dengan baik, antrean investor di Kendal dan Batang berpotensi menjadi gelombang investasi baru yang semakin memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu pusat industri utama di Indonesia.







