Jakarta, 14 September 2026 – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 31 produk obat bahan alam dan suplemen kesehatan yang mengandung bahan kimia obat (BKO). Temuan tersebut menjadi perhatian karena produk yang dipasarkan sebagai obat berbahan alam maupun suplemen seharusnya tidak mengandung bahan kimia obat yang ditambahkan tanpa ketentuan. Keberadaan BKO dapat menimbulkan risiko kesehatan karena konsumen berpotensi mengonsumsinya tanpa mengetahui dosis, kontraindikasi, maupun kemungkinan interaksi dengan obat lain. Produk semacam ini dapat memberikan efek yang terasa cepat sehingga konsumen menganggap khasiatnya berasal sepenuhnya dari bahan alami. Padahal, efek tersebut bisa muncul akibat kandungan obat yang tidak dicantumkan secara semestinya. BPOM pun mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati ketika membeli dan menggunakan produk yang menawarkan manfaat kesehatan.
Temuan 31 produk tersebut merupakan bagian dari pengawasan terhadap obat bahan alam dan suplemen kesehatan yang beredar di masyarakat. Pengawasan dilakukan untuk memastikan komposisi produk sesuai dengan informasi yang dicantumkan sekaligus memenuhi persyaratan keamanan. Sampel produk dapat diperiksa melalui pengujian laboratorium untuk mendeteksi keberadaan zat yang tidak seharusnya terdapat di dalamnya. Apabila ditemukan BKO, produk tersebut dinilai mempunyai risiko karena pengguna tidak memperoleh informasi yang memadai mengenai zat aktif yang dikonsumsi. Kondisi ini berbeda dengan penggunaan obat yang telah melalui evaluasi dan mempunyai aturan dosis serta peringatan yang jelas. Penambahan BKO secara tersembunyi karena itu menjadi pelanggaran serius dalam produk yang diklaim berbahan alam.
Bahan kimia obat pada dasarnya bukan berarti seluruhnya merupakan zat yang berbahaya apabila digunakan secara tepat. Banyak BKO merupakan zat aktif yang memang digunakan dalam obat modern untuk menangani kondisi kesehatan tertentu. Persoalan muncul ketika zat tersebut ditambahkan ke obat tradisional atau suplemen tanpa dicantumkan dan tanpa pengawasan yang sesuai. Konsumen dapat mengonsumsi dosis yang tidak diketahui atau menggunakan produk tersebut dalam waktu terlalu lama. Risiko menjadi semakin besar apabila seseorang mempunyai penyakit tertentu atau sedang mengonsumsi obat lain. Interaksi antarzat dapat memunculkan efek yang tidak diharapkan dan pada kondisi tertentu membutuhkan penanganan medis.
Produk yang menawarkan efek sangat cepat perlu menjadi perhatian konsumen, terutama apabila dipasarkan sebagai ramuan alami. Klaim seperti menghilangkan nyeri dengan segera, meningkatkan stamina secara drastis, menurunkan berat badan dalam waktu sangat singkat, atau memberikan efek tertentu hanya setelah beberapa kali konsumsi perlu disikapi secara kritis. Produk herbal umumnya mempunyai karakter yang berbeda dengan obat yang mengandung zat aktif farmakologis dalam dosis tertentu. Efek yang terlalu cepat tidak otomatis membuktikan adanya BKO, tetapi dapat menjadi alasan bagi konsumen untuk lebih teliti. Masyarakat sebaiknya tidak menjadikan testimoni pengguna sebagai satu-satunya dasar dalam memilih produk. Informasi mengenai izin edar, komposisi, aturan penggunaan, dan peringatan perlu diperiksa terlebih dahulu.
Risiko penggunaan produk mengandung BKO berbeda-beda bergantung pada jenis zat yang ditemukan. Beberapa zat dapat memengaruhi tekanan darah, jantung, saluran pencernaan, hati, ginjal, maupun sistem tubuh lainnya apabila digunakan tanpa pengawasan. Efek samping juga dapat meningkat apabila produk dikonsumsi bersamaan dengan obat resep. Orang dengan penyakit kronis mempunyai risiko tambahan karena kondisi tubuh dan terapi yang sedang dijalani perlu diperhitungkan. Penggunaan dalam jangka panjang tanpa mengetahui kandungan sebenarnya dapat membuat konsumen tidak menyadari penyebab keluhan kesehatan yang muncul. Karena itu, transparansi mengenai komposisi merupakan bagian penting dalam menjamin keamanan sebuah produk.
Kelompok lanjut usia perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap penggunaan obat bahan alam maupun suplemen. Mereka lebih mungkin mempunyai beberapa kondisi kesehatan sekaligus dan mengonsumsi sejumlah obat secara rutin. Produk yang ternyata mengandung BKO tersembunyi dapat berinteraksi dengan terapi yang sudah diberikan dokter. Hal serupa berlaku bagi ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, serta orang dengan gangguan fungsi hati atau ginjal. Produk yang dianggap alami tidak otomatis aman bagi seluruh kelompok masyarakat. Konsultasi dengan dokter atau apoteker dapat dilakukan apabila terdapat keraguan mengenai keamanan suatu produk.
BPOM mempunyai kewenangan melakukan tindakan terhadap produk yang tidak memenuhi ketentuan. Penanganan dapat mencakup peringatan publik, penghentian peredaran, penarikan produk, hingga langkah lain sesuai hasil pengawasan dan tingkat pelanggaran yang ditemukan. Penelusuran terhadap rantai distribusi juga penting untuk mengetahui sumber produk dan pihak yang bertanggung jawab terhadap peredarannya. Pengawasan tidak hanya dilakukan pada toko konvensional karena perdagangan produk kesehatan kini berkembang pesat melalui platform digital. Penjualan daring memungkinkan produk berpindah dengan cepat ke berbagai daerah. Kondisi tersebut membuat pengawasan membutuhkan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, platform perdagangan, dan masyarakat.
Konsumen mempunyai peranan penting dalam membantu mencegah peredaran produk bermasalah. Sebelum membeli, masyarakat dapat melakukan pemeriksaan sederhana terhadap kemasan, label, izin edar, dan masa kedaluwarsa. Kemasan yang rusak atau informasi yang tidak jelas sebaiknya menjadi alasan untuk tidak menggunakan produk tersebut. Klaim yang terlalu berlebihan juga perlu dicermati karena produk kesehatan mempunyai batasan dalam menyampaikan manfaatnya. Harga murah bukan satu-satunya indikator produk bermasalah, begitu pula harga mahal tidak otomatis menjamin keamanan. Hal terpenting adalah memastikan produk berasal dari jalur yang dapat dipertanggungjawabkan dan mempunyai informasi yang jelas.
Pembelian melalui media sosial membutuhkan kewaspadaan tambahan karena produk dapat ditawarkan melalui akun yang tidak mempunyai identitas usaha jelas. Penjual terkadang menggunakan testimoni, foto sebelum dan sesudah, maupun klaim keberhasilan untuk menarik konsumen. Informasi semacam itu belum tentu dapat membuktikan keamanan maupun efektivitas produk. Konsumen perlu berhati-hati terhadap produk yang menjanjikan hasil instan tanpa menjelaskan risiko atau batasan penggunaan. Identitas produsen dan nomor izin edar perlu diperiksa sebelum transaksi dilakukan. Apabila terdapat perbedaan antara informasi pada iklan dan kemasan, penggunaan sebaiknya ditunda sampai memperoleh kepastian.
Masyarakat yang telah menggunakan produk dan kemudian mengetahui adanya peringatan mengenai kandungan BKO sebaiknya tidak mengabaikan informasi tersebut. Penggunaan produk yang dinyatakan bermasalah perlu dihentikan sesuai arahan otoritas, sementara kondisi kesehatan dapat diperhatikan setelah penghentian. Apabila muncul keluhan seperti jantung berdebar, pusing berat, gangguan pencernaan, sesak, reaksi alergi, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, pemeriksaan medis perlu dilakukan. Kemasan produk sebaiknya disimpan karena informasi di dalamnya dapat membantu tenaga kesehatan mengetahui apa yang telah dikonsumsi. Konsumen juga dapat melaporkan produk yang mencurigakan kepada pihak berwenang. Laporan masyarakat dapat membantu mempercepat identifikasi produk bermasalah di pasaran.
Temuan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi industri obat bahan alam mengenai pentingnya menjaga kepercayaan konsumen. Indonesia mempunyai potensi besar dalam pengembangan jamu dan berbagai produk berbasis bahan alam. Potensi tersebut dapat berkembang apabila kualitas, keamanan, dan konsistensi produk dijaga secara ketat. Penambahan bahan kimia obat secara tidak sah justru dapat merusak kepercayaan terhadap industri secara keseluruhan. Produsen yang mengikuti ketentuan juga dapat terkena dampak ketika masyarakat menjadi ragu terhadap keamanan produk herbal. Karena itu, pengawasan dan penegakan aturan diperlukan untuk melindungi konsumen sekaligus pelaku usaha yang menjalankan produksi secara benar.
Penemuan 31 obat bahan alam dan suplemen kesehatan mengandung bahan kimia obat pada akhirnya menegaskan pentingnya kewaspadaan sebelum mengonsumsi produk kesehatan. Label alami atau herbal tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pemeriksaan terhadap legalitas, komposisi, dan aturan penggunaan. Kandungan BKO yang tidak diinformasikan dapat membuat konsumen menerima zat aktif dengan dosis yang tidak diketahui serta menghadapi risiko efek samping dan interaksi obat. Masyarakat perlu memilih produk secara lebih teliti dan tidak mudah percaya terhadap klaim khasiat instan. Pengawasan terhadap penjualan secara langsung maupun daring juga perlu terus diperkuat agar produk bermasalah tidak kembali beredar. Dengan pengawasan yang konsisten dan konsumen yang lebih kritis, risiko kesehatan akibat produk obat bahan alam dan suplemen yang tidak memenuhi ketentuan dapat ditekan.




