Jakarta, 9 September 2026 – Diah Permatasari mengungkap cara yang digunakannya untuk tetap mengetahui keberadaan sang putra, Marciano Nicholas Reynard, yang kini menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Jarak ribuan kilometer serta perbedaan waktu antara Indonesia dan Los Angeles membuat komunikasi keduanya tidak selalu dapat dilakukan secara langsung. Apalagi, Marciano disebut tidak selalu cepat membalas pesan yang dikirim melalui WhatsApp. Diah akhirnya memanfaatkan fitur lokasi di Snapchat untuk mengetahui aktivitas putranya dari jauh. Cara tersebut diakui membuatnya lebih tenang sebagai seorang ibu yang memiliki sifat cukup protektif terhadap anak-anaknya.
Marciano saat ini diketahui sedang menempuh pendidikan di University of Southern California atau USC di Los Angeles. Kondisi tersebut membuat Diah harus menjalani hubungan jarak jauh dengan putranya dalam waktu cukup panjang. Perbedaan waktu sekitar 14 jam juga membuat komunikasi menjadi lebih menantang karena waktu beraktivitas keduanya tidak selalu sama. Ketika Diah sedang menjalani kegiatan pada siang hari di Indonesia, putranya bisa saja masih beristirahat di Amerika Serikat. Situasi itulah yang membuat komunikasi melalui pesan tidak selalu mendapatkan respons dalam waktu singkat.
Diah secara terbuka mengakui dirinya termasuk orang tua yang protektif, bahkan menyebut kecenderungannya bisa tergolong sangat protektif. Menurutnya, tantangan yang dihadapi generasi muda sekarang berbeda dibandingkan ketika dirinya masih berusia muda. Karena itu, ia merasa masih mempunyai tanggung jawab untuk memastikan anak-anaknya berada dalam kondisi baik meskipun mereka telah beranjak dewasa. Perhatian tersebut mencakup pendidikan, lingkungan pergaulan, hingga aktivitas sehari-hari. Bagi Diah, sikap tersebut muncul dari kekhawatiran seorang ibu ketika anak berada sangat jauh dari rumah.
Snapchat kemudian menjadi salah satu aplikasi yang paling sering dimanfaatkan Diah untuk mengetahui keberadaan Marciano. Melalui fitur peta dan berbagi lokasi yang tersedia di aplikasi tersebut, ia dapat melihat apakah putranya sedang berada di rumah, kampus, pusat perbelanjaan, atau lokasi lainnya. Informasi tersebut membuat Diah tidak harus terus-menerus mengirim pesan hanya untuk memastikan kondisi Marciano. Selama fitur lokasi aktif dan informasi tersedia, ia dapat memperoleh gambaran mengenai keberadaan putranya. Cara itulah yang secara bercanda disebut sebagai metode untuk “memata-matai” anak dari Indonesia.
Diah bahkan mengaku dapat mengetahui ketika Marciano sedang pergi berbelanja maupun melakukan aktivitas di lokasi yang jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Informasi yang tersedia melalui media sosial juga membantunya mengetahui lingkungan pertemanan putranya. Hal tersebut memberikan rasa tenang karena Diah dapat memperoleh gambaran mengenai aktivitas Marciano tanpa harus selalu menunggu laporan langsung. Meski demikian, penggunaan fitur tersebut tidak sepenuhnya berjalan tanpa keberatan dari sang anak. Marciano ternyata mengetahui kebiasaan ibunya memantau keberadaannya dan pernah menyampaikan protes.
Menurut Diah, putranya beberapa kali meminta agar sang ibu tidak terlalu berlebihan dalam melakukan pengawasan. Marciano yang sudah beranjak dewasa tentu mulai memiliki kehidupan dan aktivitas yang lebih mandiri selama berada di Amerika Serikat. Namun, Diah mengaku sulit sepenuhnya menghilangkan rasa khawatir karena jarak mereka sangat jauh. Ketika tidak dapat melihat kondisi anak secara langsung, informasi mengenai lokasi menjadi salah satu cara untuk mengurangi kekhawatirannya. Diah pun berusaha mempertahankan komunikasi sembari menyesuaikan diri dengan kemandirian sang anak.
Alasan lain Diah lebih sering memanfaatkan Snapchat adalah kebiasaan Marciano yang tidak segera membalas pesan WhatsApp. Ia mengatakan pesan yang dikirim terkadang baru mendapatkan jawaban hingga beberapa hari kemudian apabila tidak berkaitan dengan sesuatu yang penting. Situasi tersebut tentu dapat membuat seorang ibu merasa khawatir, terutama ketika anak sedang berada di negara lain. Diah akhirnya mempunyai cara tersendiri apabila benar-benar membutuhkan respons cepat. Ia akan memberikan penanda bahwa pesan yang dikirim bersifat mendesak agar Marciano mengetahui sang ibu membutuhkan jawaban segera.
Cara tersebut ternyata cukup efektif. Ketika melihat pesan dengan keterangan mendesak, Marciano disebut akan segera menghubungi ibunya dan menanyakan apa yang terjadi. Sebaliknya, apabila pesan hanya berisi komunikasi sehari-hari, balasan dapat datang jauh lebih lambat karena kesibukan kuliah maupun aktivitas lainnya. Diah memahami bahwa anaknya mempunyai rutinitas sendiri selama menjalani pendidikan di Los Angeles. Namun, sebagai ibu, ia tetap membutuhkan kepastian sederhana bahwa Marciano berada dalam keadaan baik.
Pengalaman Diah memperlihatkan bagaimana teknologi dapat mengubah pola komunikasi antara orang tua dan anak yang tinggal berjauhan. Dahulu, komunikasi jarak jauh sangat bergantung pada telepon atau pesan, sementara saat ini fitur berbagi lokasi memungkinkan keluarga mengetahui keberadaan satu sama lain secara lebih cepat. Meski demikian, penggunaan fitur tersebut idealnya tetap dilakukan dengan sepengetahuan dan persetujuan pihak yang membagikan lokasinya. Batas privasi menjadi semakin penting ketika anak telah memasuki usia dewasa dan menjalani kehidupan secara mandiri. Komunikasi terbuka dapat membantu orang tua mendapatkan rasa aman tanpa membuat anak merasa kehilangan ruang pribadi.
Bagi Diah, kekhawatirannya juga dipengaruhi besarnya jarak antara Indonesia dan Amerika Serikat. Jika terjadi sesuatu terhadap Marciano, dirinya tidak mungkin datang dalam waktu singkat seperti ketika anak tinggal di kota yang sama. Perjalanan antarbenua membutuhkan waktu panjang, sementara perbedaan zona waktu dapat membuat komunikasi semakin sulit. Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa ia merasa perlu mempunyai cara sederhana untuk memastikan keberadaan putranya. Snapchat akhirnya berfungsi bukan sekadar sebagai media sosial, tetapi juga menjadi alat yang membantunya menjalani peran sebagai ibu dari jarak jauh.
Meski dikenal protektif, Diah tetap menyadari bahwa kedua anaknya telah tumbuh dewasa dan mempunyai tanggung jawab masing-masing. Tantangannya kini adalah menemukan keseimbangan antara memberikan kebebasan dengan tetap menjalankan peran sebagai orang tua. Pendidikan di luar negeri juga menjadi proses bagi Marciano untuk belajar mandiri, mengatur kehidupan, serta mengambil keputusan tanpa selalu didampingi keluarga. Diah pun perlahan harus menyesuaikan pola pengawasan dengan fase kehidupan putranya tersebut. Rasa khawatir tetap ada, tetapi komunikasi dan kepercayaan menjadi semakin penting ketika jarak memisahkan mereka.
Kebiasaan Diah Permatasari memanfaatkan Snapchat pada akhirnya menjadi bagian dari caranya menjaga hubungan dengan Marciano selama menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Perbedaan waktu sekitar 14 jam dan pesan WhatsApp yang terkadang baru dibalas beberapa hari membuat fitur lokasi terasa lebih praktis baginya. Walaupun sang putra sempat memprotes sikap protektif tersebut, Diah mengakui rasa waswas sebagai seorang ibu masih sulit dihilangkan. Ia tetap ingin memastikan anaknya aman tanpa harus selalu menghubungi setiap saat. Di tengah jarak Indonesia dan Los Angeles, teknologi pun menjadi salah satu jembatan yang membantu Diah tetap merasa dekat dengan kehidupan sang putra.




